News Update :
Merdeka 1945. Diberdayakan oleh Blogger.

Tukang Becak Merampok Nasabah Mandiri menggunakan Samurai

Sabtu, 19 Mei 2012




Polisi berhasil menggagalkan aksi perampokan di Jalan Mulyosari, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (19/5). Satu dari dua pelaku perampokan terhadap nasabah Mandiri itu berhasil dibekuk dan dihadiahi timah panas oleh petugas.

"Saat ini, pelaku masih menjalani proses penyidikan di Mapolsek," kata Kanit Reskrim Polsek Mulyorejo, AKP Budi Waluyo di kantornya Sabtu (19/5).

Dari hasil penyidikan polisi, pelaku mengaku bernama Karsono, warga Ambegan Karya. Dia berprofesi sebagai tukang becak dan baru kali pertama melakukan perampokan. "Saya diajak sama Firman," aku pria 55 tahun itu kepada penyidik.

Karsono juga mengaku kali pertama mengenal Firman di warung kopi Sabtu pagi tadi. Dan dari perbincangan di warung kopi itu, Firman mengajak tersangka Karsono untuk jambret. "Saya mau saja diajak jambret karena butuh uang. Sudah beberapa hari ini saya sepi penumpang," aku penarik becak ini lagi.

Setelah mengiyakan ajakan Firman, Karsono kemudian pergi naik motor dan dipersenjatai samurai oleh Firman. Selanjutnya, kedua pelaku yang baru saling mengenal ini, berputar-putar mencari sasaran, hingga di Jalan Muyosari.

Sekitar pukul 14.00 WIB, mereka menemukan korbannya, Jaka Satria Gunawan (53), warga Jalan Sutorejo Selatan, yang sedang memasuki bilik ATM Mandiri di Jalan Mulyosari. Seketika itu, Karsono turun dan ikut masuk ke dalam bilik ATM yang sama dengan Jaka, sedangkan Firman mengawasi di sekitar lokasi.

Mulanya Karsono berpura-pura mengambil ATM di tempat yang sama. Kemudian si pengayuh becak ini mencengkram tubuh Jaka dari belakang sembari mengeluarkan samurai kecil panjangnya sekitar 30 cm dari sakunya.

Sayangnya, aksi kedua tersangka itu diketahui petugas yang kebetulan melewati lokasi kejadian. Tanpa dikomando, petugas langsung memberi tembakan peringatan ketika mengetahui korban terlibat adu dorong dengan tersangka.

Petugas dari Reskrim Polsek Mulyorejo itu langsung membawa Karsono ke Mapolsek untuk proses penyidikan. Sedangkan Firman yang mengetahui keberadaan petugas, pura-pura tidak mengetahui dan segera pergi meninggalkan Karsono yang dibekuk petugas.

Sementara korban, juga dimintai keterangan oleh pihak kepolisian mengatakan, kejadian yang dialaminya membuatnya terkejut. "Spontan saya mendorong pelaku ke belakang hingga terjatuh," kata Jaka, Sabtu sore di Mapolsek Mulyorejo.

Jaka juga menuturkan kalau dia sempat memukul Karsono yang bersikeras tak melepas samurainya. "Setelah saya bisa lari keluar bilik dan teriak maling. Dan tiba-tiba sudah ada polisi memberi tembakan peringatan," katanya.

AKP Budi Waluyo menambahkan, di saat hampir bersamaan, anggotanya sedang berada di lokasi. "Anggota kemudian masuk dan menangkap pelaku," kata Budi di kantornya.

Namun usaha polisi ini tak mudah. Sebab Karsono saat itu, juga melakukan perlawanan dengan samurai yang dia bawa. Akibatnya polisi pun memuntahkan timah panasnya ke arah kaki kanan Karsono.

"Saat ini kami masih mengembangkan kasus ini. Satu rekannya, FM (Firman) sudah kami tetapkan buron," kata Budi.

Budi mengatakan Firman berhasil meloloskan diri karena bertugas mengawasi aksi Karsono dari luar. Pria tersebut juga berada di dekat sepeda motor. "Saat ini keberadaannya masih kami lacak," ujar dia.

Sumber : merdeka.com

Lady Gaga Batal Bukti Aparat Gagal





Perdebatan konser artis kontroversial asal Amerika Serikat, Lady Gaga menjadi topik hangat di Indonesia. Aksi GaGa kalah nyentrik dibandingkan dengan sebagian penyanyi dangdut erotis dalam negeri. Namun tidak ada pelarangan oleh polisi dan pemda setempat.

"Dangdut seronok di kampung itu dilarang tapi masih berkembang pesat, hal itu menunjukkan wujud kegagalan dari aparat negara dalam menjalankan undang-undang yang berlaku," kata tokoh budaya, Radhar Panca Dahana kepada wartawan di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (19/5).

Radhar menjelaskan, ada tiga unsur tidak dijalankan aparat negara terkait pertunjukan dangdut 'syur', yaitu unsur formal, budaya dan adat tidak dijalankan.

"Ketiga unsur tersebut berjalan sendiri-sendiri, itulah kenapa masih ada aksi panggung dangdut yang erotis di kampung-kampung," ujarnya.

Dampak signifikan akan terjadi di Indonesia jika pertunjukan Lady Gaga tetap digelar, dikarenakan animo masyarakat yang lebih bangga ketika memakai produk luar daripada dalam negeri.

"Perilaku kelas menengah ke atas itu menjadi acuan bagi menengah ke bawah. Jadi apapun produk yang dikeluarkan luar negeri menjadi simbol status sosial kita," jelasnya.


Sumber : merdeka.com

 

© Copyright Merdeka 1945 2012 | Design by Merdeka | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.